MODEL DAN EVALUASI PEMBELAJARAN SAINS
MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
DAN MODEL PEMBELAJARAN KOLABORATIF
Merumuskan model pembelajaran
adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum
(suatu rencana pembelajaran jangka panjang) merancang bahan-bahan pembelajaran,
dan membimbing pembelajaran di kelas atau yang lain. Law dan Kelton (1991: 5)
dalam Wowo Sunaryo dkk (2007) mendefinisikan model sebagai representasi suatu
sistem yang dipandang dapat mewakili sistem yang sesungguhnya. Mils (1989: 4)
dalam Wowo Sunaryo dkk (2007) berpendapat bahwa model adalah bentuk representasi
akurat sebagai proses aktual yang memungkinkan seseorang atau sekelompok orang
mencoba bertindak berdasarkan model itu. Model pengajaran disusun untuk
mencapai tujuan pendidikan tertentu. Model pembelajaran tersebut juga dapat
dijadikan pola pilihan, artinya guru boleh memilih model pembelajaran yang
sesuai dan efisien untuk mencapai tujuan pendidikannya.
A.
Model Pembelajaran
Kontekstual
Pembelajaran kontekstual
merupakan pembelajaran yang mengkaitkan materi pembelajaran dengan konteks
dunia nyata yang dihadapi siswa sehari-hari baik dalam lingkungan keluarga,
masyarakat, alam sekitar dan dunia kerja, sehingga siswa mampu membuat hubungan
antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan
sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran yakni :
kontruktivisme (constructivism), bertanya (questioning), menyelidiki (inquiry),
masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi
(reflection), dan penilaian autentik (authentic assessment). Makna dari
kontruktivisme adalah siswa mengkonstruksi/membangun pemahaman mereka sendiri
dari pengalaman baru berdasar pada pengetahuan awal melalui proses interaksi
sosial dan asimilasi-akomodasi. Implikasinya adalah pembelajaran harus dikemas
menjadi proses “mengkonstruksi” bukan menerima pengetahuan. Inti dari inquiry
atau menyelidiki adalah proses perpindahan dari pengamatan menjadi pemahaman.
Oleh karena itu dalam kegiatan ini siswa belajar menggunakan keterampilan
berpikir kritis Bertanya atau questioning dalam pembelajaran kontekstual
dilakukan baik oleh guru maupun siswa. Guru bertanya dimaksudkan untuk
mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa. Sedangkan untuk
siswa bertanya meupakan bagian penting dalam pembelajaran yang berbasis
inquiry.
Langkah-Langkah
Pembelajaran Kontekstual
1. Kembangkan pemikiran
bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri,
menemukan sendiri dan mengkonstruksikan
sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.
2.
Laksanakan sejauh mungkin
kegiatan inkuiri untuk semua topik.
3.
Kembangkan sifat ingin
tahu siswa dengan bertanya.
4.
Ciptakan masyarakat
belajar (belajar dalam kelompok-kelompok)
5.
Hadirkan model sebagai
contoh pembelajaran.
6.
Lakukan refleksi di
akhir penemuan.
7.
Lakukan penilaian yang
sebenarnya dengan berbagai cara
B.
Model Pembelajaran
Kolaboratif
Model pembelajaran kolaboratif merupakan salah satu model
“Student-Centered Learning” (SLC). Pada model ini, peserta belajar dituntut
untuk berperan secara aktif dalam bentuk belajar bersama atau berkelompok.
Gokhale mendefinisikan
bahwa “collaborative learning” mengacu pada metode pengajaran
di mana siswa dalam satu kelompok yang bervariasi tingkat kecakapannya
bekerjasama dalam kelompok kecil yang mengarah pada tujuan bersama.
Langkah-langkah Pembelajaran kolaboratif
- Para siswa dalam kelompok menetapkan tujuan belajar dan membagi tugas sendiri- sendiri.
- Semua siswa dalam kelompok membaca, berdiskusi, dan menulis.
- Kelompok kolaboratif bekerja secara bersinergi mengidentifikasi, mendemontrasikan, meneliti, menganalisis, dan memformulasikan jawaban-jawaban tugas atau masalah dalam LKS atau masalah yang ditemukan sendiri.
- Setelah kelompok kolaboratif menyepakati hasil pemecahan masalah, masing-masing siswa menulis laporan sendiri-sendiri secara lengkap.
- Guru menunjuk salah satu kelompok secara acak (selanjutnya diupayakan agarsemua kelompok dapat giliran ke depan) untuk melakukan presentasi hasil diskusi kelompok kolaboratifnya di depan kelas, siswa pada kelompok lain mengamati, mencermati, membandingkan hasil presentasi tersebut, dan menanggapi. Kegiatan ini dilakukan selama lebih kurang 20-30 menit.
- Masing-masing siswa dalam kelompok kolaboratif melakukan elaborasi, inferensi, dan revisi (bila diperlukan) terhadap laporan yang akan dikumpulan.
- Laporan masing-masing siswa terhadap tugas-tugas yang telah dikumpulkan, disusun perkelompok kolaboratif.
- Laporan siswa dikoreksi, dikomentari, dinilai, dikembalikan pada pertemuanberikutnya, dan didiskusikan.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kontekstual adalah model pembelajaran yang membantu guru mengkaitkan materi dengan situasi dunia nyata, guru mendorong siswa untuk membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan. Model pembelajaran kolaboratif adalah model yang dapat menumbuhkan kerja sama antar siswa, dalam kelompok-kelompok kecil untuk mencapai tujuan yang sama. Dengan adanya pembelajaran kolaboratif, siswa lebih aktif dalam melakukan sesuatu, dengan dibentuknya kelompok-kelompok tersebut, siswa bisa berkomunikasi langsung dengan anggota lain dalam membahas tema yang telah ditentukan oleh guru. Di samping itu, siswa juga dapat mengembangkan kemampuan berpikir dan komunikasi. Guru hanya memantau kegiatan siswa selama pembelajaran, dan guru memberikan pengarahan jika ada siswa yang memerlukan bantuan. Pembelajaran kolaboratif ini mengajarkan agar siswa berpikir lebih kritis dan aktif dalam memecahkan masalah dan mencapai tujuan yang sama.
Dari uraian diatas, penulis mengajukan beberapa pertanyaan?
1. Apakah model pembelajaran kontekstual dan model pembelajaran kolaboratif mampu membuat siswa berpartisipasi secara aktif di kelas?
2. Bagaimana
peran guru menghadapi gaya belajar yang berbeda pada setiap siswa dalam proses
pembelajaran dengan mengunakan model kontekstual dan kolaboratif?
3. Apakah model pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan penguasaan konsep siswa?
3. Apakah model pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan penguasaan konsep siswa?
Asalamualaikum wr,wb
BalasHapusterima kasih atas ulasannya , saya akan mencoba menjawab pertanyaan anda nomor satu model pembelajran kontekstual dan model kolaboratif apabila diterapkan dalam proses pembelajaran, menurut saya mampu membuat siswa belajar secara aktif , karena siswa akan bekerja sama antar siswa untuk bertukar pendapat dalam menyelesaikan berbagai permasalahan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari sehingga siswa dapat membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan siswa.
saya mencoba menjawab pertanyaan no. 2, bagaimana peran guru menghadapi gaya belajar yang berbeda2 pada setiap siswa dengan menggunakan model kontekstual dan kolaboratif
BalasHapus1. Model Kontekstual, disini guru harus bisa mengaitkan materi semenarik mungkin sehingga siswa bisa teralihkan untuk memahami materi tersebut sehingga walaupun berbeda-beda mereka akan fokus nantinya jika materi itu menarik minat mereka dalam suatu pelajaran.
2.model kolaboratif, di sini kan kerja kelompok karena didalam kelompok saling bekerja sama, maka kemungkinan siswa akan berinteraksi satu sama lain,walaupun berbeda gaya belajar mereka akan fokus satu sama lain
Assalamualaikum wr,wb
BalasHapusSetelah saya baca ulasan diatas..
Saya mencoba menjawab pertanyaan saudari no 1.
Apakah model konstektual dan kolaboratif bisa membuat siswa aktif di lokal.
Menurut saya bisa karena di dalam model kolaboratif menuntut siswa nya yang aktif dilokal, siswa belajar bermusyawarah, mengembangkan pikiran kritis,belajar bersaing secara sehat..kalau yang konstektual
hampir sama saja dengan kolaboratif di model konstektual siswa juga di tuntut bepikir kritis dan kreatif dalam menyimpulkan data, terbentuk jiwa kerja sama dalam kelompok dan individu serta pembelajaran jadi menyenangkan.
Terima kasih
Terima kasih atas ulasannya.
BalasHapussaya akan menanggapi pertanyaan sdri.Reza yang no.2
Bagaimana peran guru menghadapi gaya belajar yang berbeda pada setiap siswa dalam proses pembelajaran dengan mengunakan model kontekstual dan kolaboratif?
sepengetahuan saya, type Gaya belajar siswa itu ada 3 yaitu gaya belajar secara Visual, Audio dan Kinestetik (VAK).
ada anak yang mudah paham jika dia hanya melihat dan mencatat materi yang ada di papan tulis, ada juga anak yang mudah paham hanya lewat mendengar, dan ada juga anak yang paham pelajaran jika sambil bergerak aktiv.
seorang guru harus mengenal tipe gaya belajar dari siswa-siswi nya, dengan demikian guru bisa menerapakan model pembelajaran yang cocok sesuai dengan kondisi siswanya. apakah di kelas nya lebih dominan anak-anak visual, namun guru juga tak bisa acuh terhadap yang minor. guru harus mempertimbangkannya terlebih dahulu, guru mungkin harus pintar mengkombinasikan model-model pembelajaran selama 1 semester itu, sehingga semua siswa dengan gaya belajar berbeda itu bisa mengikuti pelajaran dengan gayanya sendiri dan tidak monoton. terkait dengan aplikasi model pembelajaran seperti apa, guru harus memahami dan mengenal terlebih dahulu siswanya, baru lah guru bisa merancang pembelajaran tersebut dengan baik sesuai dengan kondisi yang ada.
terima kasih.
Terimah kasih atas ulasannya. Sya akan mencoba menjawab pertanyaan no 2. Menurut saya. Guru harus berperan aktif dalam menghadapi perbedaan pada proses pembelajan trsebut. Guru jga bisa mengajak siswa saling tukar pendapat dgn proses yg brbeda trsbut dan guru bisa memberi simpulan dari perbedaan tersebut
BalasHapus