MODEL DAN EVALUASI PEMBELAJARAN SAINS
MODEL-MODEL PEMBELAJARAN KHAS SAINS
Pada artikel ini saya akan
membahas model-model pembelajaran khas sains. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada
suatu lingkungan belajar yang meliputi guru dan siswa yang saling bertukar
informasi. Di sisi lain pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran,
tetapi sebenarnya mempunyai konotasi yang berbeda. Dalam konteks pendidikan, guru mengajar agar
peserta didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran hingga mencapai sesuatu
objektif yang ditentukan (aspek kognitif), juga dapat memengaruhi perubahan
sikap (aspek afektif), serta keterampilan (aspek psikomotor) seorang peserta
didik, namun proses pengajaran ini memberi kesan hanya sebagai pekerjaan satu
pihak, yaitu pekerjaan pengajar saja. Sedangkan pembelajaran menyiratkan adanya
interaksi antara pengajar dengan peserta didik. Tujuan pembelajaran (instructional
objective) adalah perilaku hasil belajar yang diharapkan terjadi,
dimiliki, atau dikuasai oleh peserta didik setelah mengikuti kegiatan
pembelajaran tertentu
Menurut Trianto (2010: 51), menyebutkan bahwa model pembelajaran adalah suatu
perencanaan atau pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan
pembelajaran di kelas atau pembelajaran tutorial. Model pembelajaran mengacu
pada pendekatan pembelajaran yang akan digunakan, termasuk di dalamnya
tujuan-tujuan pengajaran, tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan
pembelajaran, dan pengelolaan kelas
Ada beberapa model khas sains:
1.
Problem Based Learning (PBL)
Problem
Based Learning (PBL) merupakan sakah satu model pembelajaran yang
dapat menolong siswa untuk meningkatkan keterampilan yang dibutuhkan pada era
globalisasi saat ini. Problem Based
Learning (PBL) dikembangkan untuk pertama kali oleh Prof. Howard Barrows
sekitar tahun 1970-an dalam pembelajaran ilmu medis di McMaster University Canada (Amir, 2009).
Model pembelajaran ini menyajikan suatu masalah yang nyata bagi siswa sebagai
awal pembelajaran kemudian diselesaikan
melalui penyelidikan dan diterapkan menggunakan pendekatan masalah.
Langkah-langkah
PBL yang salah satunya dan akan digunakan yaitu menurut Branda (1986) sebagai
berikut:
a. Klarifikasi dan definisi masalah
b. Analisis masalah
c. Menyusun hipotesis atau penjelasan
logis sistematis
d. Identifikasi pengetahuan yang
diperlukan
e. Identifikasi pengetahuan yang sudah
diketahui
f. Menentukan isu pemelajaran
g. Mengumpulkan pengetahuan baru
h. Sintesis pengetahuan lama dan baru
i. Mengulang semua langkah yang
diperlukan
j. Identifikasi hal-hal yang belum
dipelajari
k. Menerangkan yang telah dipelajari
l. Menerapkan pengetahuan ke dalam
masalah
Keuntungan
PBL ialah yang berikut:
1) Dengan menggunakan metode ini siswa
dimungkinkan untuk memperoleh pengetahuan dan sekaligus mengembangkan kemampuan
dalam pemecahan masalah.
2) Berdasarkan penelitian, siswa ternyata
lebih termotivasi apabila menggunakan metode ini.
3) Metode ini memudahkan siswa mengingat
kembali informasi, konsep, dan keterampilan yang disimpannya dalam memorinya
karena hal-hal tersebut dikaitakan dengan suatu problem.
4) Karena siswa dipaksa bekerja dengan
masalah yang mereka tidak pahami, mereka dipaksa untuk mengembangkan kemampuan
memecahkan masalah, melakukan diagnosis dan mengajukan hipotesis.
kerugian
dari penerapan PBL
1) Kesuksesan penerapan metode PBL
bergantung pada kedisiplinan mahasiswa untuk belajar.
2) Metode PBL lebih menekankan kemampuan
pemecahan masalah (problem solving) daripada pemerolehan ilmu dasarnya sendiri.
3) Metode PBL tidak efisien. Apabila
seorang siswa menghadapi masalah yang harus dipecahkan, ia harus mengerti dulu
terminologi yang ada, apa saja gejalanya, dan masalahmasalah lain.
4) Metode ini tidak memfasilitasi siswa
agar dapat lulus dalam ujian.
5) Banyak pengajar yang merasa bahwa alat
ukur untuk menguji kemampuan para peserta didik sedikit.
2.
Project Based Learning
Project
based learning merupakan sebuah metode pembelajaran yang sudah banyak
dikembangkan di negara-negara maju seperti Amerika Serikat. Project Based
Learning adalah pembelajaran yang lebihmenekankan pada pemecahan problemotentik
yang terjadi sehari‐hari melaluipengalaman belajar praktik
langsung dimasyarakat (John, 2008:374). Project Based Learning has also
referred to by other names, such as project‐Based teaching,
experienced‐Based education, authentic learning or
anchored instruction (Arends 1997:156).Project Based Learning jugadapat
diartikansebagai pembelajaran berbasis proyek,pendidikan berbasis pengalaman,
belajarautentik pembelajaran yang berakar padamasalah‐masalah
kehidupan nyata. Gijbels(2005:29) menyatakan bahwa Project BasedLearning is
used to refer to manycontextualized approaches to instructionthat anchor much
of learning and teachingin concrete. This focus on concrete problemas
initiating the learning process is central inmost definition of Project Based
Learning.
Adapun
langkah‐langkah
pembelajara dengan metode ProjectBased Learning adalah sebagai berikut:
a.
Peserta
didik dibagi dalam kelompok‐kelompok
kecil dan masing masing kelompok melaksanakan proyek nyata(connecting
theproblem).
b.
Masing‐masing kelompok diberikan penjelasan
tentang tugas dan tanggung jawab (setting the structure) yang harus
dilakukan oleh kelompoknya dalam praktik.
c.
Peserta didik di masing‐masing kelompok berusaha maksimaluntuk
mengidentifikasikan masalah bisnis (visiting the problem) yang dihadapi
sesuai pengetahuan yang dimiliki; (a). mengidentifikasi masalah dengan seksama
untuk menemukan inti problem bisnis yang sedang dihadapi dan (b)
mengidentifikasi cara untuk memecahkan masalah.
d.
Peserta
didik di masing‐masing
kelompok mencari informasi dariberbagai sumber (buku, pedoman dan sumber lain)
atau bertanya pada pakar yang mendampingi untuk mendapatkan pemahaman tentang
masalah (re ‐
visiting the problem).
e.
Berbekal
informasi yang diperoleh peserta didik saling bekerjasama danberdiskusi dalam
memahami masalah dan mencari solusi (produce the product) terhadap
masalah dihadapi dan langsung diaplikasikan. Pelatih bertindak sebagai
pendamping.
f.
Masing‐masing
kelompok mensosialisasikan pengalaman dalammemecahkan masalah kepada kelompok
lainnya untuk mendapatkan masukan dan penilaian (evaluation) dari
kelompok lainnya.
Berikut
beberapa keuntungan dengan pendekatan project based learning (Purnawan,
2007):
a.
Memotivasi
peserta didik dengan melibatkannya di dalam pembelajarannya, membiarkan sesuai
minatnya, menjawab pertanyaan dan untuk membuat keputusan dalam proses belajar.
b.
Menyediakan
kesempatan pembelajaran berbagai disiplin ilmu.
c.
Membantu
keterkaitan hidup di luar sekolah, memperhatikan dunia nyata, dan mengembangkan
ketrampilan nyata.
d.
Menyediakan
peluang unik karena pendidik membangun hubungan dengan peserta didik, sebagai
pelatih, fasilitator, dan co-learner.
e.
Menyediakan
kesempatan untuk membangun hubungan dengan komunitas yang besar.
f.
Membuat
peserta didik lebih aktif dan berhasil memecahkan problem-problem yang
kompleks.
g.
Mendorong
peserta didik untuk mengembangkan dan mempraktikkan keterampilan komunikasi.
h.
Memberikan pengalaman pada peserta didik
pembelajaran dan praktik dalam mengorganisasikan proyek, dan membuat alokasi
waktu dan sumber-sumber lain seperti perlengkapan untuk menyelesaikan tugas.
i.
Menyediakan
pengalaman belajar yang melibatkan peserta didik secara kompleks dan dirancang
untuk berkembang sesuai dunia nyata.
j.
Membuat
suasana belajar menjadi menyenangkan, sehingga peserta didik maupun pendidik
menikmati proses pembelajaran.
Kelemahan dalam project based learning antara
lain:memerlukan banyak waktu untuk menyelesaikan masalah, membutuhkan biaya
yang cukup banyak, banyak pendidik yang merasa nyaman dengan kelas tradisional,
di mana pendidik memegang peran utama di dalam kelas, banyaknya peralatan yang
harus disediakan, peserta didik yang memiliki kelemahan dalam percobaan dan
pengumpulan informasi akan mengalami kesulitan, ada kemungkinan peserta didik
ada yang kurang aktif dalam kerja kelompok, ketika topik yang diberikan pada
masing-masing kelompok berbeda, dan dikhawatirkan peserta didik tidak bisa
memahami topik secara keseluruhan.
3.
Discovery Learning
Discovery
Learning merupakan pembelajaran berdasarkan penemuan (inquirybased),
konstruktivis dan teori bagaimana belajar. Model pembelajaran yang diberikan
kepada siswa memiliki skenario pembelajaran untuk memecahkan masalah yang nyata
dan mendorong mereka untuk memecahkan masalah mereka sendiri. Dalam memecahkan
masalah mereka; karena ini bersifat konstruktivis, para siswa menggunakan
pengalaman mereka terdahulu dalam memecahkan masalah.
Discovery
Learning diterapkan dengan 6 langkah:
a. Stimulasi, guru bisa mengajak siswa untuk
mengingat pengalaman pribadi yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan
berdasarkan skala prioritas dengan mempertimbangkan antara pengorbanan dan
kepuasan.
b. Merumuskan masalah (hipotesis), guru
memaparkan hipotesis tentang hal-hal yang harus diperhatikan dalam pengaturan
rumah tangga.
c. Collecting information, siswa
mengamati video upin dan ipin beli, pakai, suka dan mengaitkannya dengan
data/informasi dari berbagai sumber tentang hal-hal yang harus diperhatikan
dalam pengaturan rumah tangga.
d. Data processing. Setelah mengumpulkan
informasi, siswa memprosesnya dengan teman sekelompok.
e. Data verification. Setelah memproses data,
para siswa melakukan verifikasi ke kelompok lain apakah sesuai dengan pemikiran
mereka tentang hal-hal yang harus diperhatikan dalam pengaturan rumah tangga
Generalization.
f. Siswa menggeneralisasi/membuat
kesimpulan dan hasilnya dipaparkan di depan kelas.
Hosnan
(2014: 287-288) mengemukakan beberapa kelebihan dari model discovery learning
yakni sebagai berikut:
a. Membantu siswa untuk memperbaiki dan
meningkatkan keterampilan-keterampilan dan proses-proses kognitif.
b. Pengetahuan yang diperoleh melalui
model ini sangat pribadi dan ampuh karena menguatkan pengertian, ingatan, dan
transfer.
c. Dapat meningkatkan kemampuan siswa
untuk memecahkan masalah.
d. Membantu siswa memperkuat konsep
dirinya, karena memperoleh kepercayaan bekerja sama dengan yang lain.
e. Mendorong keterlibatan keaktifan siswa.
f. Mendorong siswa berpikir intuisi dan
merumuskan hipotesis sendiri.
g. Melatih siswa belajar mandiri.
h. Siswa aktif dalam kegiatan belajar
mengajar, karena ia berpikir dan menggunakan kemampuan untuk menemukan hasil
akhir
4.
Inquiry
Based Learning
Model
inkuiri merupakan proses pembelajaran yang dibangun atas pertanyaan-pertanyaan
yang diajukan siswa. Para siswa didorong untuk berkolaborasi memecahkan
masalah, dan bukannya sekedar menerima instruksi langsung dari gurunya. Tugas
guru dalam lingkungan belajar berbasis pertanyaan ini bukanlah untuk
menyediakan pengetahuan, namun membantu siswa menjalani proses menemukan
sendiri pengetahuan yang mereka cari. Guru berfungsi sebagai fasilitator dan
bukan sumber jawaban.
Langkah-langkah
dengan model inkuiri menurut (Suchman dalam Arikunto 2014, h. 84-85) sebagai
berikut :
a. Mengajak siswa membayangkan
seakan-akan dalam kondisi yang sebenarnya.
b. Mengidentifikasi komponen-komponen
yang berada di sekeliling kondisi tersebut.
c. Merumuskan permasalahan dan membuat
hipotesis pada kondisi tersebut.
d. Memperoleh data dari kondisi tersebut
dengan membuat pertanyaan dan jawabannya “ya” atau “tidak”.
e. Membuat kesimpulan dari data-data yang
diperoleh
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan
langkah-langkah inquiry sebagai berikut:
a. Stimulation
b. Problem statement
c. Data collection
d. Data processing
e. Verification.
f. Generalization
Kekurangan
Model Inquiry Based Learning menurut Sagala (2009, h.69) sebagai berikut:
a. Diharuskan adanya kesiapan mental pada
peserta didik.
b. Perlu adanya proses penyesuaian/adaptasi
dari metode tradisional ke pendekatan ini.
c. Dalam mengimplementasikannya,
memerlukan waktu yang panjang sehingga sering guru sulit menyesuaikan dengan
waktu yang telah ditentukan.
Menurut
Arikunto 2014, h. 80 berpendapat bahwa kekurangan pembelajaran inkuiri :
a.
Sulit
mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa.
b.
Sulit
dalam merencanakan pembelajaran oleh karena terbentur dengan kebiasaan siswa
dalam belajar.
c.
Kadang-kadang
dalam mengimplementasikannya, memerlukan waktu yang panjang sehingga sering guru
sulit menyesuaikannya dengan waktu yang telah ditentukan.
d.
Selama
kriteria keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan siswa menguasai materi
pelajaran, maka strategi ini tampaknya akan sulit diimplemetasikan.
Dari
uraian artikel diatas maka penulis ingin bertanya mengenai beberapa hal:
1. Penerapan
model pembelajaran sains sering mengalami maslah dalam proses belajar mengajar
di kelas. Adakah faktor-faktor yang mempengaruhinya?
2. Kecakapan
apa yang harus dimiliki seorang guru agar model pembelajaran sains ini dapat
berjalan dengan baik?
3. Berdasarkan
data PISA, khususnya dalam beberapa bidang sains. Secara peringkat pendidikan Indonesia
berada di bawah negara Singapore, Thailand dll. Apakah ada pengaruh antara
model pembelajaran yang ada di Indonesia dengan kualitas pendidikan di
Indonesia?
Menanggapi pertanyaan nomor 2. Kecakapan apa yang harus dimiliki seorang guru agar model pembelajaran sains ini dapat berjalan dengan baik?
BalasHapusMenurut saya, yang paling penting adalah kompetensi guru dalam menguasai materi yang akan diajarkan. Guru harus mampu menterjemahkan secara efektif materi ajar kedalam perangkat pembelajaran dan media pembelajaran. Sehingga dengan sedikit instruksi diawal pembelajaran, siswa sudah mampu belajar secara mandiri sesuai tahap-tahapnya. Terimakasih,.
terimakasih atas ulasan yang diberikan saudari Reza. Saya akan menanggapi pertanyaan yang ketiga, menurut saya saat ini kualitas pendidikan Indonesia memang peringkatnya masih di bawah Singapore, Thailand dsb namun Indonesia perlahan telah meningkatkan kualitas pendiidkan yang terbukti telah naik 6 peringkat ( PISA tahun 2015). Banyak hal yang menjadi penentu kualitas pendidikan di Indonesia. Indonesia terus menerus melakukan perbaikan dalam kurikulum dan model pembelajaran. Namun apabila implementasinya masih kurang sesuai karena kemampuan guru dan siswa maka peningkatan kualitas pun berjalan lambat.
BalasHapusSaya akan mencoba menanggapi pertanyaan no 1. Mnrut saya faktor yg mempengaruhi proses bljar mengajr adlah 1. Kesiapan guru dlam mngajar. 2. Kedaan siswa 3. Fasilitas, jika mengadakan pratikum. Dan saat mngajr siswa tba2 rbut it akan mengganggu proses bljar jga. Apapun jenis model nya perlu ada ksiapan yg mtang dri guru maupun siswa agar tercipta kenyamanan belajr. Sekian..
BalasHapusAssalamualaikum wr wb
BalasHapusSaya mencoba menanggapi pertanyaan nomor 1.
Kalau menurut saya bukan masalah dimodel yang digunakan, tapi guru yang kurang bisa menerapkan secara baik kepada siswa.Media pembelajaran yang kurang memadai menjadi persoalan lain. Misalkan untuk menjelaskan suatu konsep diluar praktikum dan observasi jika tidak didukung media yang memadai akan mengkaburkan konsep yang disampaikan. Jadi guru harus kreatif dan inovatif.Berdasarkan beberapa pengamatan di kelas pada saat pembelajaran IPA, banyak masalah yang muncul yang dialami guru, diantaranya :
1. Guru belum memahami konsep materi yang diajarkan.
2. Guru kesulitan memancing minat belajar siswa
3. Alat peraga tidak sesuai dengan materi yang diajarkan.
4. Konsep yang disampaikan masih bersifat verbal.
Terima kasih
Menyikapi no 2.?
BalasHapus1.Keterampilan Bertanya
2.Keterampilan memberikan penguatan
3.Keterampilan mengadakan variasi
4.Keterampilan menjelaskan
5.. Keterampilan membuka dan menutup pelajaran
6.Keterampilan mengelola kelas.
Inti nya guru di abad ke 21 di guru harus mempunyai skill
terimakasih ulasannya,menanggapi pertanyaan terakhir Berdasarkan data PISA, Secara peringkat pendidikan Indonesia memang berada di bawah beberapa negara asean lainnya, seperti singapore, malaysia,thailand. lalu apakah ada pengaruh penerapan model pembelajaran terhadapkualitas pendidikan. pertanyaan yang pernah saya tanyakan kebeberapa diskusi, lalu saya simpulkan bahwa penerapan model pembelajaran berpengaruh terhadap kualitas pendidikan. kita tau model pembelajan mengatur PBM untuk mencapai tujuan pembelajaran. selama tujuan pembelajaran berhasil, maka pelajar yang diajarkanjuga mempunyai kemampuan. dan salah satu yang diperhatikan dalam melihat kualitas pendidikan adalah kualitas pelajarnya. terimakasih
BalasHapus
BalasHapusMenanggapi soal no 1.
Sebagai seorang guru harus
mampu memilih model pembelajaran yang tepat bagi peserta didik. Karena itu dalam memilih model pembelajaran, guru harus memperhatikan keadaan atau kondisi siswa, bahan pelajaran serta sumber-sumber belajar yang ada agar penggunaan model pembelajaran dapat diterapkan secara efektif dan menunjang keberhasilan belajar siswa.
saya akan mencoba menjawab pertanyaan nomor 2. Kecakapan apa yang harus dimiliki seorang guru agar model pembelajaran sains ini dapat berjalan dengan baik?
BalasHapusMenurut saya, kemampuan guru dalam menggunakan model serta penguasaan materi yang akan diajarkan. Guru harus mampu mengarahkan dengan baik dan seeefektif mungkin antara materi ajar kedalam perangkat serta model pembelajaran,Sehingga siswa mudah memahami apa yg dijelaskan pada pembelajaran, sesuai dengan tahap-tahap yg telah diinstruksikan. Terimakasih ^_^
Kecakapan apa yang harus dimiliki seorang guru agar model pembelajaran sains ini dapat berjalan dengan baik?
BalasHapusAda beberapa Kecakapan Guru yang harus dimiliki Kecakapan Kepribadian, Kecakapan Pedagogik, Kecakapan Profesional, dan Kecakapan Sosial. Ketika keempat Kecakapan tersebut terpenuhi maka guru akan memiliki Kecakapan yang sama dimanapun.
Salam
Agung Laksono
Assalamualaikum wr.wb saya akan mencoba menjawab pertanyaan No 1.menurut saya ada beberapa faktor yang mempengaruhi proses belajar mengajar yaitu :
BalasHapus1. Faktor internal
Keadaan atau kondisi jasmani dan Rohani Siswa
2. Faktor Eksternal
Kondisi Lingkungan Disekitar siswa
3. Faktor Pendekatan Belajar
upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran dan materi-materi pembelajaran
dan faktor yang no 3 merupakan hal yang menjadi fokus kita pada saat ini.
Saya akan menaggapi pertanyaan no 3. Ketrampilan apa saja yang harus dimiliki guru untuk menerapkan model pembelajran sains.
BalasHapusKeterampilan bertanya, memberi penguatan, mengadakan variasi, menjelaskan, membuka dan menutup pelajaran, mengelola kelas, membimbing diskusi.
Trimaksih
Assalamualaikum, saya akan mencoba menjawab pertanyaan nomor 2, kecakapan apa yang harus dimiliki oleh guru agar pembelajaran sains berjalan dengan baik
BalasHapus1. guru mencari dan mencocokkan model pembelajaran dengan materi yang akan di pelajari atau disampaikan oleh siswa.
2. Guru mengajak siswa membayangkan seakan-akan dalam kondisi yang sebenarnya.
3. Guru mengidentifikasi komponen-komponen yang berada di sekeliling kondisi tersebut.
4. Guru merangsang siswa agar aktif, sehingga kelas hidup
5. Guru dan siswa sama-sama membuat kesimpulan dari data-data yang diperoleh
Terima Kasih, wasalamualaikum
sharing untuk pertanyaan nomor 3 ibu reza,
BalasHapuspada bukunya Bateson menyatakan ada empat level pembelajaran. Level pertama adalah pembelajaran tentang objek. Bagaimana sesuatu beradaptasi. Termasuk dalam level ini adalah matematika, fisika, biologi, dan lain-lain. Level kedua adalah pembelajaran bagaimana cara belajar. Termasuk dalam level ini adalah belajar membaca efektif, menghafal cepat, berfikir kreatif, dan lain sebagainya. Level ketiga adalah belajar mengubah atau membangun suatu paradigma. Level keempat adalah belajar tentang pandangan dunia terhadap alam semesta ini.
dari model pembelajaranya indonesia telah berada pada nlevel ke 4 sama seperti model pembelajaran yang diterapkan negara maju lainnya, tapi pada kenyaataan dilapangan. yang di evaluasi dan diterapkan guru ,masih tetap saja pada level ke dua, sedangkan soal PISA semua berada pada level pengetahuan ke 4, dengan level soal C6 sehingga siswa indonesia sulit untuk memahaminya dan menghasilkan peringkat PISA yang rendah, terimakasih
Saya akan menanggapi pertanyaan sdri.Reza yaitu: Berdasarkan data PISA, khususnya dalam beberapa bidang sains. Secara peringkat pendidikan Indonesia berada di bawah negara Singapore, Thailand dll. Apakah ada pengaruh antara model pembelajaran yang ada di Indonesia dengan kualitas pendidikan di Indonesia?
BalasHapus-tentu terdapat pengaruh.. Dengan menggunakan model pembelajaran yang tidak tepat akan mempengaruhi mutu pendidikan Indonesia.contohnya saja seorang guru menggunakan model discovery learning, didalam model ini membutuhkan alat praktikum. ternyata alat-alat tsb tidak lengkap di sekolah itu, maka seharusnya guru tsb bisa mengganti dengan model pembelajaran yg lain,jangan terlalu memaksakan jika situasi dan kondisi tidak mendukung. Dengan menggunakan hal yang tak ada,pembelajaran akan terganggu. Dan siswa pun tidak akan mendapatkan makna/konsep dari KBM saat itu. Dan hal ini pun akan berpengaruh pada kemampuan sains siswa,yang pastinya akan berdampak pada score PISA Indonesia.
Terima kasih.
Pertanyan kedua menarik, kecakapan guru ada banyak, aryinya hiru harus memiliki trik khusus falam memeilih model yang akan ia terapkan dalam pembelajaran
BalasHapus