Model Dan Evaluasi Pembelajaran Sains
Pembelajaran sains abad 21
Karakteristik abad 21 berbeda dengan
abad-abad sebelumnya. Pada abad 21 ini teknologi berkembang, hubungan antar
bangsa semakin kuat, terjadi perubahan cara hidup, serta interaksi warga negara
semakin dekat dengan warga negara lain. Seiring dengan perkembangan zaman yang
semakin modern tersebut, masyarakat suatu negara dituntut mampu bersaing dan
melakukan penyesuaian untuk menjadi sumber daya manusia yang berkualitas. Jika
sumber daya manusia suatu negara berkualitas maka dapat dikatakan negara
tersebut maju. Maju mundurnya suatu negara tersebut erat kaitannya dengan aspek
pendidikan. Jadi untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas,
diperlukan pendidikan yang berkualitas pula.
Pendidikan merupakan aktivitas individu yang
berlangsung sepanjang hayat. Pendidikan dapat terjadi di mana saja. Salah satu
pendidikan yang dialami seseorang adalah pendidikan formal di sekolah. Menurut
UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan adalah
usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya
untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa, dan negara. Pendidikan di sekolah terjadi di dalam maupun
di luar kelas. Pendidikan di dalam kelas erat kaitannya dengan proses
pembelajaran.
Saat ini, pendidikan berada di masa
pengetahuan (knowledge age) dengan percepatan peningkatan pengetahuan yang luar
biasa. Percepatan peningkatan pengetahuan ini didukung oleh penerapan media dan
teknologi digital yang disebut dengan information super highway (Gates, 1996).
Sejak internet diperkenalkan di dunia komersial pada awal tahun 1970 an,
informasi menjadi semakin cepat terdistribusi ke seluruh penjuru dunia.
Di abad ke 21 ini, pendidikan menjadi semakin
penting untuk menjamin peserta didik memiliki keterampilan belajar dan
berinovasi, keterampilan menggunakan teknologi dan media informasi, serta dapat
bekerja, dan bertahan dengan menggunakan kecakapan hidup (life skills).
Tiga
konsep pendidikan abad 21 telah diadaptasi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Republik Indonesia untuk mengembangkan kurikulum Sekolah Dasar (SD), Sekolah
Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah
Kejuruan (SMK). Ketiga konsep tersebut adalah 21st Century Skills (Trilling dan
Fadel, 2009), scientific approach (Dyer, et al., 2009) dan authentic learning
dan authentic assesment (Wiggins dan McTighe, 2011); Ormiston, 2011; Aitken dan
Pungur, 1996; Costa dan Kallick, 1992; Anderson dan Karthwohl (2001/2010)).
Selanjutnya, tiga konsep tersebut diadaptasi
untuk mengembangkan pendidikan menuju Indonesia Kreatif tahun 2045. Indiesia
Kreatif ini didukung oleh hasil penelitian yang menunjukkan adanya pergeseran
pekerjaan di masa datang. Piramid pekerjaan di masa datang menunjukkan bahwa
jenis pekerjaan tertingi adalah pekerjaan kreatif (creatve work). Sedangkan
pekerjaan rutin akan diambil alih oleh teknologi robot dan otomasi. Pekerjaan
kreatif membutuhkan intelegensia dan daya kreativitas manusia untuk
menghasilkan produk-produk kreatif dan inovatif. Para manajer perusahaan sering
bertanya “apakah tamatan sekolah siap bekerja?”, lalu apa kira-kira jawabannya?
Not really! (Trilling dan Fadel, 2009: 7). Studi yang dilakukan Trilling dan
Fadel (2009) juga menunjukkan bahwa tamatan sekolah menengah, diploma dan
perguruan tinggi masih kurang kompeten dalam hal:
1. Komunikasi
oral maupun terulis
2. Berpikir
kritis dan mengatasi masalah
3. Etika
bekerja dan profesionalisme
4. Bekerja
secara tim dan berkolaborasi
5. Bekerja
di dalam kelompok yang berbeda
6. Mengnakan
teknologi
7. Manajemen
projek dan kepemimpinan.
Sistem
Pembelajaran Sain Abad 21
Dalam
menghadapi globalisasi abad 21 maka salah satu cara yang harus dilakukan adalah
dengan meningkatkan mutu pendidikan. Saat ini peningkatan mutu pendidikan
Indonesia masih terus diupayakan karena sangat diyakini bahwa IPA sebagai ilmu
dasar memegang peranan penting dalam pengembangan IPTEK. IPA (natural sains)
adalah kumpulan pengetahuan dan cara-cara mendapatkan pengetahuan mempergunakan
pengetahuan.
Kurikulum
2013 disiapkan untuk mencetak generasi yang siap di dalam menghadapi masa
depan. Karena itu kurikulum disusun untuk mengantisipasi perkembangan masa
depan. Pergeseran paradigma belajar abad 21 dan kerangka kompetensi abad 21
menjadi pijakan di dalam pengembangan kurikulum 2013. Menyongsong pemberlakuan
kurikulum 2013 semakin mempertegas peran pendidikan nasional. Sebagai salah
satu sektor pembangunan nasional dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa,
mempunyai visi terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat
dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia berkembang
menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan
zaman yang selalu berubah. Oleh karena itu, pendidikan nasional harus berfungsi
secara optimal sebagai wahana utama dalam pembangunan bangsa dan karakter. Hal
itu juga dijadikan acuan dalam pembelajaran IPA
A. Paradigma Pendidikan Nasional di Abad-21
Paradigma
Pendidikan dapat dirumuskan sebagai: ”suatu cara memandang dan memahami
pendidikan, dan dari sudut pandang ini kita mengamati dan memahami
masalah-masalah pendidikan yang dihadapi dan mencari cara mengatasi
permasalahan tersebut”. Sementara “Paradigma pendidikan nasional adalah suatu
cara memandang dan memahami pendidikan nasional, dan dari sudut pandang ini
kita mengamati dan memahami masalah dan permasalahan yang dihadapi dalam
pendidikan nasional, dan mencari cara mengatasi permasalahan tersebut.” (BSNP,
2010: 6)
Badan
Standar Nasional Pendidikan (BSNP) sebagaimana dimuat dalam Paradigma
Pendidikan Nasional Di Abad-21, mengemukakan, paradigma pendidikan yang
demokratis, bernuansa permainan, penuh keterbukaan, menantang, melatih rasa
tanggung jawab, akan merangsang anak didik untuk datang ke sekolah atau ke
kampus karena senang, bukan karena terpaksa. Meminjam kata-kata Ackoff &
Greenberg (2008): “Education does not depend on teaching, but rather on the
self-motivated, curiosity and selfinitiated actions of the learner.” (BSNP,
2010: 38) Dengan mengacu pada paradigma pendidikanserta paradigma pendidikan
nasional, BSNP merumuskan 8 paradigma pendidikan nasional di Abad-21 sebagai
berikut:
1. Untuk
menghadapi di Abad-21 yang makin syarat dengan teknologi dan sains dalam
masyarakat global di dunia ini, maka pendidikan kita haruslah berorientasi pada
matematika dan sains disertai dengan sains sosial dan kemanusiaan (humaniora)
dengan keseimbangan yang wajar.
2. Pendidikan
bukan hanya membuat seorang peserta didik berpengetahuan, melainkan juga
menganut sikap keilmuan dan terhadap ilmu dan teknologi, yaitu kritis, logis,
inventif dan inovatif, serta konsisten, namun disertai pula dengan kemampuan
beradaptasi. Di samping memberikan ilmu dan teknologi, pendidikan ini harus
disertai dengan menanamkan nilai-nilai luhur dan menumbuh kembangkan sikap
terpuji untuk hidup dalam masyarakat yang sejahtera dan bahagia di lingkup
nasional maupun di lingkup antarbangsa dengan saling menghormati dan saling
dihormati.
3. Untuk
mencapai ini mulai dari pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, menengah dan
pendidikan tinggi haruslah merupakan suatu sistem yang tersambung erat tanpa
celah, setiap jenjang menunjang penuh jenjang berikutnya, menuju ke frontier
ilmu. Namun demikian, penting pula pada akhir setiap jenjang, di samping
jenjang untuk ke pendidikan berikutnya, terbuka pula jenjang untuk langsung
terjun ke masyarakat.
4. Bagaimanapun
juga, pada setiap jenjang pendidikan perlu ditanamkan jiwa kemandirian, karena
kemandirian pribadi mendasari kemandirian bangsa, kemandirian dalam melakukan
kerjasama yang saling menghargai dan menghormati, untuk kepentingan bangsa.
5. Khusus
di perguruan tinggi, dalam menghadapi konvergensi berbagai bidang ilmu dan
teknologi, maka perlu dihindarkan spesialisasi yang terlalu awal dan terlalu
tajam.
6. Dalam
pelaksanaan pendidikan perlu diperhatikan kebhinnekaan etnis, budaya, agama dan
sosial, terutama di jenjang pendidikan awal. Namun demikian, pelaksanaan
pendidikan yang berbeda ini diarahkan menuju ke satu pola pendidikan nasional
yang bermutu.
7. Untuk
memungkinkan seluruh warganegara mengenyam pendidikan sampai ke jenjang
pendidikan yang sesuai dengan kemampuannya, pada dasarnya pendidikan harus
dilaksanakan oleh pemerintah dan masyarakat dengan mengikuti kebijakan yang
ditetapkan oleh pemerintah (pusat dan daerah).
8. Untuk
menjamin terlaksananya pendidikan yang berkualitas, sistem monitoring yang benar
dan evaluasi yang berkesinambungan perlu dikembangkan dan dilaksanakan dengan
konsisten. Lembaga pendidikan yang tudak menunjukkan kinerja yang baik harus
dihentikan. (BSNP, 2010: 43)
B. Tujuan Pendidikan Nasional di Abad-21
Tujuan
Pendidikan Nasional di Abad-21 adalah cita-cita setiap bangsa untuk mewujudkan
kesejahteraan dan kebahagiaan bagi seluruh rakyatnya, dan hidup sejajar dan
terhormat di kalangan bangsa-bangsa lain. Demikian pula bangsa Indonesia
bercita-cita untuk hidup dalam kesejahteraan dan kebahagiaan, duduk sama rendah
dan tegak sama tinggi serta terhormat di kalangan bangsa-bangsa lain di dunia
global di Abad-21 ini. Semua ini dapat dan harus dicapai dengan kemauan dan
kemampuan sendiri, yang hanya dapat ditumbuhkembangkan melalui pendidikan yang
harus diikuti oleh seluruh anak bangsa. Tujuan pendidikan nasional di Abad-21
dapat dirumuskan sebagai berikut ini. Pendidikan Nasional di Abad-21 bertujuan
untuk mewujudkan cita-cita bangsa, yaitu masyarakat bangsa Indonesia yang
sejahtera dan bahagia, dengan kedudukan yang terhormat dan setara dengan bangsa
lain dalam dunia global, melalui pembentukan masyarakat yang terdiri dari
sumber daya manusia yang berkualitas, yaitu pribadi yang mandiri, berkemauan
dan berkemampuan untuk mewujudkan cita-cita bangsanya. (BSNP, 2010: 39).
Terkait
dengan berbagai fenomena, serta paradigma dan tujuan pendidikan nasional di
Abad-21, maka kita menghadapi berbagai tantangan yang tentu saja tidak semuanya
bisa dibahas pada kesempatan kali ini. Berikut akan dibahas lima tantangan
Pendidikan di Abad-2, yang meliputi:
1.
Pergeseran
Paradigma Pendidikan
Pembelajaran yang harus dipenuhi dalam proses
pendidikan abad ke-21, yaitu: (1) dari berpusat pada guru menuju berpusat pada
siswa, (2) dari satu arah menuju interaktif, (3) dari isolasi menuju lingkungan
jejaring, (4) dari pasif menuju aktif-menyelidiki, (5) dari maya/abstrak menuju
konteks dunia nyata, (6) dari pribadi menuju pembelajaran berbasis tim, (7)
dari luas menuju perilaku khas memberdayakan kaidah keterikatan, (8) dari
stimulasi rasa tunggal menuju stimulasi ke sehala penjuru, (9) dari alat
tunggal menuju alat multimedia, (10) dari hubungan satu arah bergeser menuju
kooperatif, (11) dari produksi massa menuju kebutuhan pelanggan, (12) dari
usaha sadar tunggal menuju jamak, (13) dari satu ilmu dan teknologi bergeser
menuju pengetahuan disiplin jamak, (14) dari kontrol terpusat menuju otonomi
dan kepercayaan, (15) dari pemikiran faktual menuju kritis, dan (16) dari
penyampaian pengetahuan menuju pertukaran pengetahuan. (BSNP, 2010: 48-50)
Sementara hal yang senada dikemukakan dalam
Pemendikbud No. 65 tahun 2013 tentang Standar Proses, yang merumuskan 14
prinsip pembelajaran, terkait dengan implementasi Kurikulum 2013, yang
meliputi: (1) dari pesertadidik diberi tahu menuju pesertadidik mencari tahu;
(2) dari guru sebagai satu-satunya sumber belajarmenjadi belajar berbasis aneka
sumberbelajar; (3) dari pendekatan tekstual menuju proses sebagai penguatan
penggunaan pendekatan ilmiah; (4) dari pembelajaran berbasis konten menuju
pembelajaran berbasis kompetensi; (5) dari pembelajaran parsial menuju
pembelajaran terpadu; (6) daripembelajaran yang menekankan jawaban tunggal
menuju pembelajaran dengan jawaban yang kebenarannya multi dimensi; (7) dari
pembelajaran verbalisme menuju keterampilan aplikatif; (8) peningkatan dan
keseimbangan antara keterampilan fisikal (hardskills) dan keterampilan mental
(softskills); (9) pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan dan pemberdayaan
peserta didik sebagai pembelajar sepanjang hayat; (10) pembelajaran yang
menerapkan nilainilai dengan memberi keteladanan(ing ngarso sung tulodo),
membangun kemauan (ing madyo mangun karso), dan mengembangkan kreativitas
peserta didik dalam proses pembelajaran (tut wuri handayani); (11)
pembelajaranyang berlangsung di rumah, di sekolah, dan di masyarakat; (12)
pembelajaran yang menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah guru, siapa saja
adalah siswa, dan di mana saja adalah kelas. (13) Pemanfaatan teknologi
informasi dan komunikasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas
pembelajaran; dan (14) Pengakuan atas perbedaan individual dan latar belakang
budaya peserta didik.
2.
Penyiapan
Kompetensi Sumber Daya Manusia di Abad-21
Dari seluruh komponen dan aspek pertumbuhan
yang ada, manusia merupakan faktor yang terpenting karena merupakan pelaku
utama dari berbagai proses dan aktivitas kehidupan. Oleh karena itulah maka
berbagai negara di dunia berusaha untuk merumuskan karakteristik manusia di
Abad-21.Menurut “21st Century Partnership Learning Framework”, terdapat
sejumlah kompetensi dan/atau keahlian yang harus dimiliki oleh Sumber Daya
Manusia (SDM)di Abad-21, yaitu: 1. Kemampaun berpikir kritis dan pemecahan
masalah (Critical-Thinking and Problem-Solving Skills)– mampu berfikir secara
kritis, lateral, dan sistemik, terutama dalam konteks pemecahan masalah; 2.
Kemampuan berkomunikasi dan bekerjasama (Communication and Collaboration
Skills) - mampu berkomunikasi dan berkolaborasi secara efektif dengan berbagai
pihak; 3. Kemampuan mencipta dan membaharui (Creativity and Innovation Skills)
– mampu mengembangkan kreativitas yang dimilikinya untuk menghasilkan berbagai
terobosan yang inovatif; 4. Literasi teknologi informasi dan komunikasi
(Information and Communications Technology Literacy) – mampu memanfaatkan
teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan kinerja dan aktivitas
sehari-hari; 5. Kemampuan belajar kontekstual (Contextual Learning Skills) –
mampu menjalani aktivitas pembelajaran mandiri yang kontekstual sebagai bagian
dari pengembangan pribadi; 6. Kemampuan informasi dan literasi media
(Information and Media Literacy Skills) – mampu memahami dan menggunakan
berbagai media komunikasi untuk menyampaikan beragam gagasan dan melaksanakan
aktivitas kolaborasi serta interaksi dengan beragam pihak. (BSNP, 2010: 44-45).
3.
Tantangan
Prodi TP (Teknologi Pendidikan/Pembelajaran)
Terkait dengan Pendidikan di Abad-21 mengacu
pada asumsi bahwa teknologi pembelajaran memiliki kaitan yang erat dan saling
menunjang, maka pembahasan tentang teknologi pembelajaran dalam pembelajaran
tentu tak bisa dilepaskan dari karakteristik pembelajaran itu sendiri. Oleh
karena itu, apabila pembelajaran memiliki karakteristik utama yaitu human
competence dan mastery learning, tentu saja model pembelajaran haruslah
mencerminkan dan berbasis pada dua karakteristik tersebut. Dengan demikian
banyak model pembelajaran yang diasumsikan relevan untuk implementasi teknologi
pembelajaran dalam pembelajaran. Dalam hal ini yang paling penting adalah
“seberapa jauh model-model pembelajaran tersebut mampu memfasilitasi peserta
didik memperoleh pengalaman belajar yang mencerminkan penguasaan suatu
kompetensi yang dituntut?” Prodi-prodi TP secara bertahap harus melakukan
hal-hal berikut:1.Redesain kurikulum, silabus, dan strategi pembelajaran yang
berbasis keunggulan dan life skills, serta pengembangan bahan pembelajaran berbasis
aktivitas siswa 2. Mengembangkan berbagai bentuk inovasi di bidang
pendidikan/pembelajaran, sebagaimana dikemukakan oleh Seels & Richey (1994)
yang meliputi 5 domain yaitu: domain desain, pengembangan, pemanfaatan,
pengelolaan dan evaluasi.
1.
Dengan munculnya berbagai fenomena pendidikan di Abad-21
ini, mampukah bangsa Indonesia mencapai tujuan/cita-cita luhur yang telah
dicanangkan oleh para pendiri NKRI ini?
2. Mampukah bangsa Indonesaia menjawab tantangan yang terkait dengan pengembangan
kurikulum 2013 sebagai upaya penyesuaian terhadap tantangan pendidikan di
Abad-21?
3.
Adakah pengaruh pembelajaran Abad- 21 dengan nilai-nilai budaya
bangsa Indonesia?
Mencoba sharing untuk pertanyaan nomor 2 ibu reza, Pembelajaran IPA di era abad 21 sebaiknya dilaksanakan secara inkuiri ilmiah (scientific inquiri) dengan pendekatan berpusat pada siswa (student centered learning) untuk menumbuhkan kemampuan berpikir kreatif (creative thingking) dan berpikir kritis (critical thingking), mampu memecahkan masalah, melatih kemampuan inovasi dan menekankan pentingnya kolaborasi dan komunikasi. Hal ini sudah sejalan dgn kurikulum 2013 yg mengemukakan model2 pembelajaran yg berdasarkan hal2 tersebut seperti model problem based learning, project based learning, discovery learninh dan inquiry yg memang disusun untuk mempersiapkan siswa dalam proses belajarnya, hanya kita sebagai guru perlu memksimalkan keberhasilan proses dalam pelaksanaan model2 tersebut terhadap siswa, -sonia
BalasHapusTerimah kasia atas ulasan nya. Saya akan mencoba mendiskusikan pertanyaan no3. Mnurut saya. Tntu saya ad pngaruh nya, krna skolah yg berada d tmpt terpencil perlu menyesuaikan dgn kemajuan teknologi yg biasa nya mreka bljr dgn memanfaatan fasilitas d sktr sekolah saja. Tidak smua teknolgi mampu d kuasai. Jika tidak slalu d awasi maka akan sngat mmpergaruhi budaya. Mulai dari budaya berpakaian siswa. Sikap dan lain sebagainya. Sekian...
BalasHapusBaiklah saya akan mencoba menjawab pertanyaan no 1 yg dimana mampukah bangsa indonesia mencapai cita-cita luhur yg telah dicanangkan pada pendiri NKRI, kalau menurut saya mampu karena tujuan dan cita luhur bangsa indonesia yg saya ketahui menurut uud 1945 alinea ke 4 tertuang tujuan bangsa indonesia yaitu melindungi segenap bangsa indonesia dan seluruh tumpah dara indonesia, memajukan kesejahteraan umum mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan prikemanusiaan dan keadilan sosial dan pada abad 21 ini mengedepankan kepada mencerdaskan kehidupan bangsa jadi sesuai kalau menurut saya
BalasHapusMenurut saya Pembelajaran abad 21 akan berpengaruh terhadap nilai nilai budaya bangsa dimana pembelajaran digital yg diterapkan akan membuka peluang bagi siswa untuk mengetahui perkembangan dunia luar. Baik itu dari segi berpakaian, berbicara, segi ilmu pengetahuan pun sangat dipengaruhi oleh negara maju.
BalasHapusOleh karena itu sebagai pendidik kita harus membangun mental dan moral siswa agar tidak terpengaruh oleh budaya luar (pakaian) dan adat istiadat dengan.
menjunjung tinggi nilai nilai bidaya bangsa Indonesia.
Untuk kemajuan iptek boleh lah ditiru...
Terima kasih
Menurut saya Pembelajaran abad 21 akan berpengaruh terhadap nilai nilai budaya bangsa dimana pembelajaran digital yg diterapkan akan membuka peluang bagi siswa untuk mengetahui perkembangan dunia luar. Baik itu dari segi berpakaian, berbicara, segi ilmu pengetahuan pun sangat dipengaruhi oleh negara maju.
BalasHapusOleh karena itu sebagai pendidik kita harus membangun mental dan moral siswa agar tidak terpengaruh oleh budaya luar (pakaian) dan adat istiadat dengan.
menjunjung tinggi nilai nilai bidaya bangsa Indonesia.
Untuk kemajuan iptek boleh lah ditiru...
Terima kasih
penomena pendidikan Nasional abad 21ini bertujuan untuk mewujudkan cita-cita bangsa, yaitu masyarakat bangsa Indonesia yang sejahtera dan bahagia, dengan kedudukan yang terhormat dan setara dengan bangsa lain dalam dunia global, melalui pembentukan masyarakat yang terdiri dari sumber daya manusia yang berkualitas, yaitu pribadi yang mandiri, berkemauan dan berkemampuan untuk mewujudkan cita-cita bangsanya. Dengan kata kesejahteraan tercakup kesejahteraan spiritual yang mungkin lebih tepat dikatakan sebagai kebahagiaaan dalam kehidupan, dan kesejahteraan fisik yang dapat pula dikatakan sebagai hidup yang berkecukupan.
BalasHapusmengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warganegara yang demokratis serta bertanggung-jawab. Bangsa ini akan mampu mencapai cita-cita saat peserta didik dan guru memiliki karakter yang baik.
BalasHapusSalam
Agung Laksono
untuk menjawab tantangan abad ke 21 penggunaan kuruikulum 2013 maupun revisi kurikulum 2013 sudah tepat digunakan .dimana pada kurikulum 2013 pembelajaran terpusat pada siswa (students centered) sehingga siswa mampu berpikir kritis dan berpikir ilmiah, dan siswa juga diperkenalkan dengan tekhnologi dan media belajar online untuk meningkatkan keterampilan siswa khususnya dibidang tekhnologi informasi.
BalasHapusuntuk masalah pergeseran nilai budaya bangsa dengan kemajuan zaman yg pesat itu tentu karena begitu banyak media luar yang memperkenalkan budayanya sehingga perlahan-lahan mulai menggeserkan budya bangsa indonesia sendiri.
Assalamualaikum..
BalasHapussaya akan mencoba menjawab pertanyaan nmor tiga, mnurut saya pembelajaran 21 akan mempengaruhi nilai dan budaya, dimana ada sisi positif , yaitu siswa lebih mandiri mencari bahan bacaan, tetapi sisi negatif apa bila teknologi trsebut di salahgunakan bukannya jdi pembelajaran yang baik justru akan mebuat nilai akhlak anak2 menjadi tdk baik, akibat pengaruh teknologi. terima kasih
Menyikapi pertanyaan no 3.?
BalasHapusPengaruh tentunya pasti ada karena di sini abad ke 21 dunia semakin cagih tentunya nilai budaya nampak sekarang sdh mulai mudar karena anak zaman sekarang hanya berfokus pd smartphone nya saja karena di setiap kegiatan belajar nya harus melibatkan kan Smartphone nya.sehingga membuat anak tidak mandiri lagi n menghilangkan nilai2 budaya.